Pemuda tidak Perlu Malu lagi Menjadi Petani

KEGIATAN bertani identik dengan kerja berat, lumpur, dan pendapatan yang kecil. Imbasnya, anak muda sekarang sudah malas untuk menggeluti dunia pertanian. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rici Solihin, warga Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Berbeda dengan anak muda seusianya yang memilih berurbanisasi ke kota ketimbang menjadi petani, Rici malah semakin mantap untuk menekuni pekerjaan yang oleh kalangan muda dianggap tidak keren tersebut.

Minat pemuda 26 tahun itu pada bidang pertanian berawal dari harga sayuran, khususnya paprika, yang terus melambung. Kendati harganya terus melonjak, para petani di desanya tidak mendapatkan keuntungan. Hal itu disebabkan ulah para tengkulak.

Rici, yang awalnya berdagang paprika, pada 2012 memutuskan untuk banting setir menjadi petani paprika di daerahnya.

“Awalnya saya pedagang. Sejalan dengan waktu, ada kelangkaan barang sehingga banyak petani menjual ke tengkulak langsung. Saya pikir apa mereka untung dengan menjual ke tengkulak dengan harga yang ditekan?” ujar Rici saat ditemui Media Indonesia, di malam penghargaan Duta Petani Muda Indonesia di Jakarta, kemarin.

Lulusan fakultas ekonomi manajemen itu awalnya sempat patah arang saat menjalani profesi petani. Selain ia malu mendapat cibiran orang, kegiatan menanam dan memasarkan produk pertanian ternyata lumayan sulit.

“Awalnya sudah sempat putus asa. Akan tetapi, setelah sukses, ketimbang bekerja di kantoran, ternyata pendapatannya lebih besar sebagai petani.

“Dimulai dari lahan yang hanya seluas 3.000 meter persegi milik orangtua, dia kini bisa menghasilkan 20 ton paprika per bulan. Saat ini dengan berdagang produk paprika yang diberi nama Paprici Segar Barokah, dia bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp20 juta per bulan.

Kepada anak muda lainnya yang ingin mengikuti jejaknya, dia berpesan jangan takut untuk mulai bertani kendati hanya memiliki lahan yang tidak terlalu luas. Hal itu disebabkan teknologi pertanian kini telah banyak berkembang.

Berkat keberhasilannya di bidang pertanian, Rici yang kini juga sering mengisi kuliah di beberapa kampus tentang kewirausahaan dan bertani atau menekuni agrobisnis menyosialisasikan dan memotivasi kaum muda agar meminati profesi bertani.

“Pernah saya pun kasih motivasi ke anak-anak kecil. Ketika tanya mengenai cita-cita mereka, banyak dan beragam. Dokter atau insyinyur, tetapi tidak ada yang mau menjadi petani. Lalu saya kasih pengertian ke anak-anak bahwa bahan makanan yang setiap hari dimakan itu asalnya dari petani,” ujar Rici yang baru saja mendapatkan penghargaan Duta Petani Muda 2016 dari Agriprofocus Indonesia.

Penghargaan Duta Petani Muda 2016 diberikan kepada 10 anak muda Indonesia yang sukses sebagai petani seperti Rici. Country Network Coordinator of Agriprofocus Indonesia Tina Napitupulu mengatakan Duta Petani Muda merupakan cara populer untuk mengembalikan pertanian di kalangan pemuda. (Adhi M Daryono/E-4)

Sumber: mediaindonesia.com, 20 Nopember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *