Duta Petani Muda Ciptakan Optimisme Kedaulatan Pangan Indonesia

Owner Paprici Juara 1 Duta Petani Muda

Jakarta, GATRAnews –¬†Menurunnya populasi petani berpengaruh pada tingkat produksi pangan di Indonesia. Hal ini semakin diperparah oleh keberminatan generasi muda dalam dunia pertanian. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, hanya 12% petani muda yang berusia di bawah 35 tahun. Jumlah itu sangatlah sedikit mengingat program pangan keberlanjutan yang berlansung hingga 20 tahun ke depan.

Untuk meningkatkan regenerasi petani, AgriProFocus Indonesia, berkolaborasi dengan Oxfam di Indonesia, Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan Kuncup Padang Ilalang (Kail) menggelar pemilihan duta petani muda 2016.

“Mandeknya regenerasi petani tak bisa dipisahkan dari wajah pertanian saat ini. Pertanian muram, tak menguntungkan, tak menjanjikan masa depan. Hal ini menyebabkan rendahnya minat masyarakat untuk masuk pertanian. Oleh karenanya diperlukan upaya untuk menumbuhkan kebanggaan menjadi petani. Salah satu upaya tersebut adalah diadakannya pemilihan duta petani muda. Duta petani muda ini diharapkan mampu menginspirasi dan menjadi agen perubahan di wilayahnya masing-masing,” ujar Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah, Sabtu (19/11), di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

“Jika duta petani muda ini menginspirasi di komunitasnya masing-masing, maka kekhawatiran atas regenerasi petani tidak perlu terjadi,” tambahnya.

Dari ratusan petani muda yang mendaftar, tersaring menjadi sepuluh finalis Duta Petani Muda, antara lain Ahmad Tarmizi (petani kedelai dan pengolahan paska panen dari Nusa Tenggara Barat), Apni Olivia Naibaho (petani sayur organik dan hidroponik dari Sumatera Utara), Frisca Chairunnisa (petani sayur organik dari Sumatera Barat), I Gede Artha Sudiarsana (petani jamur dari Bali), Maya Stolastika Boleng (petani tomat ceri dari Jawa Timur), Muhamad Juananda Kopayona (pengolahan paska panen madu dari NTT), Yosef Leribun (peternak ayam dan babi dari NTT), Muhammad Nasrul (pengolahan paska panen perikanan dari Sulawesi Selatan), Rici Solihin (produksi dan pemasaran Paprika dari Jawa Barat), dan Rizal Fahreza (produksi dan distribusi Jeruk dari Jawa Barat).

Para finalis adah petani muda yang memiliki motivasi untuk memajukan pertanian dalam inovasi, yang diterapkan dalam produksi dan pengolahan pasca-panen.

Dari sepuluh petani yang terpilih, ada tiga orang petani perempuan yang terlibat. Keikutsertaan para perempuan muda ini menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki minat yang besar di dunia pertanian. “Terpilihnya tiga petani perempuan di antara sepuluh para Duta Petani Muda ini menunjukkan bahwa bertani bisa menjadi pilihan profesi bagi perempuan muda. Harapan kami mereka bisa menginspirasi perempuan-perempuan muda untuk terjun ke pertanian dan bersama dengan pemuda yang lain membangun pertanian dan agribisnis di Indonesia, serta mewujudkan Sustainable Development Goal: Zero Hunger di tahun 2030,” ujar Dini Widiastuti, direktur program Keadilan Ekonomi, Oxfam di Indonesia.

Tak hanya menghasilkan produk yang bernilai ekonomis, kata Dini, para petani muda ini mampu memotivasi masyarakat agar kembali ke budaya agraris. “Para petani muda ini bukan hanya menanam pangan yang mampu terserap pasar namun menjadi motivasi untuk menyediakan pangan alternatif bagi masyarakat dengan mengoptimalkan sumber daya sekitarnya dan memanfaatkan teknologi informasi,” lanjut Dini.

Sementara, Country Network Coordinator AgriProFocus Indonesia Tina Napitupulu menilai, para finalis duta petani muda ini merupakan inspirator muda yang mampu menggerakkan animo anak muda untuk terlibat dan menghidupkan kembali pertanian menjadi peluang pekerjaan pun pemberdayaan di komunitasnya.

“Ada beberapa hal yang dinilai dari para finalis, antara lain seperti apa visi mereka terhadap pertanian, bagaimana kepedulian mereka terhadap masyarakat sekeliling khususnya anak muda di pertanian. Apakah mereka melihat diri dan bisnis mereka sebagai bagian dari memecahkan masalah sosial di sekelilingnya atau tidak? Dan semua finalis yang ada di sini memenuhi hal-hal tersebut meski dengan derajat yang berbeda. Materi selama pelatihan memperkuat mereka sebagai social entrepreneur di pertanian,” jelas Tina pada acara malam penganugerahan Young Farmers on Top tersebut.

Proses penilaian Duta Petani Muda 2016 berlangsung selama dua bulan. Empat organisasi penyelenggara telah menerima 514 aplikasi para petani muda sehingga terpilihlah 10 duta petani muda 2016 melalui proses penyaringan berdasarkan umur, persistensi usaha, kemampuan mengekspresikan diri, motivasi, inovasi, keramahan lingkungan, upaya membuka lapangan kerja, sensitif gender, dan pemanfaatan media sosial serta proses wawancara.

Saat penutupan pendaftaran 11 Oktober 2016, sebanyak 514 aplikasi petani muda yang masuk terdiri dari 401 petani laki-laki dan 113 petani perempuan dimana mencakup 255 petani di sektor pangan dan holtikultura (49.16%), 84 petani di sektor perkebunan (16.34%), 59 peternak (11,48%), 41 pemuda di sektor perikanan (7,98%), 47 petani yang bergerak di sektor pengolahan pasca-panen (9,14%), dan 28 pemuda yang melakukan perdagangan pangan (5.45%).

Sumber: Gatra.com, 22 Nopember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *