Petani Muda Bandung Ini Bertekad Lepaskan Warga dari Jerat Tengkulak

Rici Solihin, Petani Muda Bandung

Rici Solihin, begitu nama pemuda 26 tahun ini. Di usia masih sangat muda, lulusan Manajemen Bisnis Universitas Padjajaran ini sudah didaulat sebagai Duta Petani Muda pada acara yang diselenggarakan Oxfam Indonesia.

Lewat perusahaan Paprici Segar Barokah, Rici aktif memberdayakan petani paprika di Desa Pasir Langu, Bandung Barat, Jawa Barat. Dia juga berjuang melepaskan ketergantungan para petani dari jerat tengkulak.

Awalnya, Rici, bukan petani, tetapi pedagang. Seiring waktu, dia melihat ada kelangkaan barang. Banyak petani menjual hasil ke tengkulak. Melihat kondisi itu, dia berpikir, petani bekerja keras tetapi jual ke tengkulak dengan harga lebih murah dari pasaran.  “Saya memutuskan mencoba pertanian sendiri pertanian paprika dan mencoba memeberdayakan petani sekitar,” katanya, dua pekan lalu di Jakarta.

Anak bungsu empat bersaudara ini bisa membuktikan. Dengan bertani paprika ternyata menguntungkan. Jika ditekuni dengan konsisten dan serius, keuntungan cukup besar. Hal ini, katanya, bertolak belakang dengan anggapan banyak orang, bahwa petani tak bisa membawa kesejahteraan.

Meski begitu, perjuangan Rici jelas tak mudah. Dia banyak hadapi kendala seperti ancaman hama, gagal panen, sampai harga jual murah.

Pernah, ketika mulai bertani paprika, harga jual anjlok, di pasaran Rp5.000 per kilogram. Meskipun begitu, tak lantas menyurutkan semangat Rici. Dengan kesabaran dan fokus, perlahan tetapi pasti usaha tani dia tumbuh pesat. Kini,  harga jual paprika miliknya Rp20.000-Rp50.000 per kilogram.

Dia terus berusaha memperbaiki kualitas dan meningkatkan pengolahan produk. “Jika saat berdagang saya hanya mendapatkan profit maksimal 20%, dengan bertani profit bisa lebih 40%,” katanya.

Rici mulai bertani pada 2012, menjelang kelulusan kuliah. Memanfaatkan lahan milik orangtua seluas 500 meter persegi, dia mulai membangun green house berkapasitas 3.000 tanaman dengan biaya sekitar Rp50 juta.

Seriring berjalan waktu, pertanian paprika Rici makin berkembang. Dari luas lahan hanya 500 meter persegi, menjadi 3.000 meter persegi. Lahan tambahan dia beli pakai keuntungan paprika.

Alhamdulillah, orangtua mendukung penuh. Awalnya sempat khawatir. Dengan bukti dan tunjukkan konsisten saya, orangtua mendukung.”

Dalam sebulan, kebun paprika dia bisa menghasilkan satu ton. Omzet sekitar Rp20 juta per bulan. Jika digabung dengan paprika kebun petani binaan, omzet sampai Rp50 juta per bulan. Distribusi paprika, katanya, dikirim ke Bandung dan Jakarta, juga beberapa wilayah lain seperti Kepulauan Riau, Batam, Jambi, Pontianak, dan lain-lain. Bahkan pada 2012-2013, dia pernah mengekspor paprika ke Singapura.

“Sekarang saya lebih enjoy jadi petani dan berbagi pengalaman bisnis pertanian dengan menjadi dosen luar biasa di beberapa universitas mengenai wirausaha dan pertanian,” katanya.

Rici bilang, memang produk paprikanya belum sepenuhnya organik. Metode penanaman hidroponik masih memerlukan pupuk kimia tetapi residu rendah dan memenuhi standar. “Ke depan kita berusaha menggeser ke organik.”

Dia juga berpikir ingin meningkatkan nilai tambah prduk pertanian warga, misal dengan mengelola seperti keripik paprika, minuman atau lain-lain.

Selepas menamatkan starta satu, dia memperoleh beasiswa S2 mengambil konsentrasi manajemen rantai pasok di universitas sama. Pilihan studi ini demi melancarkan bisnis pertanian dia.

Menurut dia, mengelola bisnis pertanian yang baik, perlu memahami bagaimana mengatur pasokan dan permintaan produk. Tahun lalu, gelar master dia peroleh.

Rici Solihin dan finalis petani muda yang lain. Foto: dokumen Rici SolihinRici aktif mengajak kalangan muda terjun ke dunia pertanian. Anak-anak muda Indonesia, katanya,  sedikit yang berminat jadi petani. Mereka tak tahu bagaimana cara memulai. Diapun sering mensosialisasikan keuntungan petani kepada anak-anak muda.

Dia juga sering mengundang para pelajar TK dan SD berkunjung ke kebunnya. Dia rutin open house di kebun paprika. Dia mengenalkan bagaimana bercocok tanam yang baik, pemeliharaan sekaligus menginspirasi anak-anak untuk mau menjadi petani.

Memutus Rantai Tengkulak

Petani, katanya, kala tahu cara mengakses pasar, cara menjual, mengelola kualitas, ditambah manajemen pertanian baik, pasti mendapatkan keuntungan berlebih hingga bisa terlepas dari tengkulak.

Dia melihat,  dalam satu rantai pasokan pertanian di sana ada enam sampai tujuh perantara. Pantaslah, petani hanya mendapatkan untung maksimal 30%, 70% dinikmati tengkulak. “Jika kita bisa mempersingkat rantai pasokan menjadi tiga atau dua, itu bisa meningkatkan pendapatan petani. Keuntungan petani bisa naik lebih 40%,” katanya.

Memutus rantai ini yang Rici lakukan dengan menyasar strategi bisnis lebih relevan dengan menyasar penjualan produk paprika ke restoran, supermarket, dan hotel. Dia juga membentuk kelompok tani Segar Barokah. Hingga kini, ada 10 petani dan 40 buruh tani tergabung dalam kelompok tani binaan Rici.

Dia juga mengumpulkan hasil tani beberapa daerah lain, misal tomat dari Garut, kentang dari Pangalengan, atau cabai dari Tasikmalaya. Dengan begitu, petani bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak dibandingkan menjual ke tengkulak.

“Kita juga tak ingin mematikan bisnis tengkulak. Caranya, menyediakan market segmentasi berbeda dengan mereka. Contoh, jika market tengkulak biasa menjual ke pasar induk yang grade tak terlalu tinggi. Kita menyasar pasar menengah ke atas, hanya menerima panen kualitas premium,” katanya.

Rici berharap, dengan menjadi duta petani muda, bisa membentuk komunitas mewadahi kalangan anak muda lebih tertarik menggeluti pertanian. Dia melihat petani muda cukup banyak dengan melihat pendaftar penganugerahan duta petani muda ada sekitar 514 orang.

Petani Muda

Guna membangkitkan petani-petani muda, Oxfam Indonesia bekerjasama dengan AgriProFocus Indonesia, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Kuncup Padang Ilalang (KAIL) menyelenggarakan pemilihan Duta Petani Muda 2016.

Ada 10 finalis terpilih dari 514 pendaftar. Mereka ini Ahmad Tarmizi, petani kedelai dan pengolahan pasca panen dari NTB; Apni Olivia Naibaho, petani sayur dan hidroponik dari Sumut, dan Frisca Chairunnisa, petani sayur organik Sumbar. Lalu, I Gede Artha Sudiarsana, petani jamur Bali; Maya Stolastika Buleng, petani tomat ceri Jatim; Muhammad Juananda Kopayona, pengolahan pasca panen madu NTT dan Yosef Leribun, peternak ayam dan babi NTT. Juga, Muhammad Nasrul, pengolahan pasca panen perikanan Sulsel; Rici Solihin, produksi dan pemasaran paprika Jabar, dan Rizal Fahreza, produksi dan distribusi jeruk di Jabar

Sumber: Mongabay.co.id, 27 Nopember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *